[Review] Gran Turismo, Drama Dramatis Gamer Menjadi Pembalap Profesional

Pop Kultur 31 Agt 2023

Mungkin penulis tidak perlu menanyakan lagi apa itu Gran Turismo. Iya, pencetus racing game dengan genre simulation ini seakan-akan sudah menjadi benchmark bagaimana membawakan unsur realisme ke dalam racing game sejak pertama kali dirilis pada tahun 1997 sampai 2022 dengan serial terbaru, Gran Turismo 7.

Makanya ketika Sony mengumumkan akan membawakan Gran Turismo ke film layar lebar pada beberapa waktu silam, muncul ekspektasi (dan skeptis) dari penggemar setia dari game simulator balap karya Kazunori Yamauchi tersebut. Nah, saya sebagai salah satu dengan ekspetasi tidak terlalu tinggi pun memutuskan untuk berkesempatan menonton Gran Turismo di bioskop, jadi setidaknya saya terpuaskan dapat menikmati film bertema balapan biopik setelah sekian lama sejak Ford v Ferrari pada 2019 silam. Nah, bagaimana impresi #MedForSquad terhadap film ini?

Disclaimer: Review ini membawakan sejumlah spoiler dari film-nya yang diminimalisir sebanyak mungkin dalam tulisan ini. Jika kalian tidak mempermasalahkan spoiler, you can countinue.

Film Adaptasi Game dengan Membawa Kisah Nyata

Dibalik setiap pembalap pasti ada sang mentor yang 'mengarahkannya'

Salah satu alasan skeptis terhadap film yang diadaptasi dari game adalah jalan cerita yang dibawakan sudah fiktif sedari awal yang selalu tidak dapat dieksekusikan dengan baik dalam dunia nyata. Apalagi kalau kalian yang sudah memainkan Gran Turismo sejak seri awal pasti mengerti bahwa game ini pada dasarnya no-storyline career mode. Jadi mungkin penonton awam maupun peggnemar setia mungkin akan bingung, cerita apa yang akan dibawakan oleh film ini nantinya?

Ternyata, alih-alih sekadar membawa elemen dari gamenya ke layar lebar, Gran Turismo membawakan tema biopik inspiratif dari seorang gamer yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi pembalap professional melalui program Nissan GT Academy.

Jann Mardenborough, lulusan GT Academy 2011 yang menjadi 'inspirasi' dalam film ini, bahkan dia juga salah stunt driver dalam film Gran Turismo.

Mengisahkan Jann Mardenborough (Archie Madekwe), lulusan dari program Nissan GT Academy tahun 2011 yang awalnya hanyalah seorang gamer yang menghabiskan waktunya bermain Gran Turismo di rumahnya.

Sang Ayah, Steve Mardenborough (Djimon Hounsou), yang merupakan mantan pemain bola profesional mewakili Cardiff City menginginkan Jann dan adiknya, Coby untuk mengikuti jalannya menjadi pemain bola profesional. Namun Jann bersikukuh bahwa itu bukanlah yang dia inginkan dan tetap mengimpikan menjadi pembalap profesional. Ditambah lagi impiannya tidak mendapat restu dari sang Ayah yang merasa bahwa apa yang dilakukan Jann selama buang-buang waktu.

Namun keajaiban ternyata menghampirinya, Danny Moore (Orlando Bloom), marketing dari Nissan mempunyai ide yang luar biasa dengan memberikan kesempatan kepada para gamer untuk menjadi pembalap profesional demi meningkatkan brand awareness Nissan melalui melalui para pemain Gran Turismo.

Dia pun memanggil mantan pembalap profesional Jack Salter (David Harbour) untuk memimpin program sekaligus melatih para atlet yang lolos untuk program GT Academy. Jann yang merupakan salah satu peserta yang lolos untuk bergabung ke program ini pun memulai perjalanan lika-liku demi mencapai impiannya.

Melalui plot yang dibawakan, Gran Turismo mengusung tema 'from zero to hero'. Malah, itulah alasan kenapa alasan kenapa Gran Turismo membawa tagline 'based on a true story' di awal filmnya, karena kisah Jann Mardenborough sendiri memang larger-than-life itself yang membawa pesan mendalam bahwa usaha dari melakukan apa yang dicintai tidak akan mengkhianati hasilnya.

Pembawaan Cerita dan Visual yang Seru

Dari sini, perjalanan lika-liku Jann dimulai.

Saya tidak menyangka apa yang dibawakan Neill Blomkamp, director dari film ini, sukses dalam membawakan kisah Jann Mardenborough dengan baik dengan konflik dapat membuat saya 'naik turun', mulai dari konflik dalam keluarga, GT Academy, hingga memasuki dunia balap profesional.

Meskipun dialog yang dibawakan Gran Turismo terkesan klise, komitmen yang dibawakan para aktornya menjadikan semua klise itu tetap terasa dramatis.
Orlando Bloom sebagai orang yang menyebalkan layaknya seorang marketing, David Harbour sebagai pelatih yang keras, namun benar-benar peduli dengan anak asuhannya, serta tentu saja Archie Madekwe yang berkepribadian kikuk dan naif sekaligus menjadi keunggulannya serta sikapnya untuk selalu memaksakan diri untuk menjadi pembalap terlihat tulus dan bukannya orang yang menyebalkan.

Pemberian detail kecil yang menarik seperti racing line menjadikannya dramatis.

Dari segi pengambilan gambar, film ini menggunakan pendekatan menarik dengan mengandalkan drone shot pada berbagai adegan balapan yang menjadikannya tidak hanya lincah dan liar, namun juga membuat adrenalin saya terpacu. Ditambah dengan berbagai detail menarik seperti interface dan partikel yang dilayangkan pada setiap adegan, mengingatkan bahwa film ini tetap membawa unsur dari Gran Turismo. Jadi, saya tidak akan merasa bosan sepanjang menonton film yang punya durasi 134 menit ini.

Tipikal anak muda yang masih dalam masa puberitas.

Jika ada sesuatu yang menjadi kekurangan dari film ini, maka itu datang dari gimik yang tidak ada kaitannya dengan Gran Turismo itu sendiri, seperti adegan kejar-kejaran dengan polisi pada awal cerita atau kisah asmaranya dengan Audrey yang terasa hambar. Padahal konflik antara Jann dengan sang Ayah lebih layak mendapatkan porsi lebih karena dialah salah satu sosok figur paling penting dalam kehidupan Jann baik sebelum maupun setelah menjadi pembalap profesional.

Kalian bingung kenapa ada Chevrolet Camaro dan Ford Mustang di balapan GT3? Sama, aku juga kebingunan.

Lokasi shooting juga mendapatkan mixed feeling karena walaupun memang dilakukan di beberapa sirkuit sungguhan seperti Red Bull Ring dan Nurburgring. Khusus untuk cerita di Le Mans, prosesnya didominasi di area sirkuit Hungaroring, Hungaria. Sehingga tim CG harus mengubah tampilan sirkuit menjadi seperti sirkuit De La Sarthe, Perancis yang masih banyak miss-nya, sehingga filmnya terasa kurang otentik.

Kesimpulan: Mendebarkan bagi Penonton, Agak 'Mixed' bagi Penggemar

"Lebih gampang dengan joystick, kan?" Sakitnya itu 'disini'

Singkat kata, Gran Turismo berhasil memuaskan eskpetasi dan dahaga saya sebagai penggemar racing game berkat memadukan elemen dramatis dan tema balapan dari game-nya sehingga menjadi tontonan yang terasa intens, serta cerita nyata Jann Mardenborough yang dapat menginspirasi banyak orang karena sekali lagi, sendiri memang larger-than-life itself . Bagi penonton kasual yang menginginkan drama dan aksi di sirkuit, film ini simply best-to-none.

Lalu bagaimana dari perspektif diri saya yang disisi lain adalah penggemar Gran Turismo? Saya bilang agak mixed, mungkin lebih dikarenakan penyusunan cerita yang diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan cerita dramatis, seperti kecelakaan di Nurburgring dan Le Mans yang sebenarnya terjadi secara berkebalikan (kalau kalian tahu kronologi sebenarnya). Selain itu, film ini tidak memiliki kesempurnaan detail yang tinggi layaknya Gran Turismo itu sendiri. Namun setidaknya intisari yang dibawakan oleh film ini masih bisa didapatkan, dan saya tetap berpendapatkan bahwa inilah salah satu film balap biopik terbaik saat ini, if not better than Ford v Ferrari dan Rush yang mengangkat tema yang sama.

Gran Turismo sudah bisa ditonton di bioskop terdekat sejak 23 Agustus silam.

Rating: 9/10

Tag

Dio Puja Altha

Seorang penulis yang selalu kebelet menulis melawan tangan saya yang gatel mengetik di keyboard (๑>◡<๑). Writing, Photography, and Subtitling, Just Doing Something Fun for My Own Sake (^^;)